Banyaknya Kecelakaan Motor Akhir-Akhir Ini Karena Kesalahan Berjamaah?

Kecelakaan demi kecelakaan yang melibatkan pengendara motor akibat kelalaian mereka sendiri semakin hari semakin santer terdengar. Miris rasanya setiap membaca atau menonton cuplikan video proses terjadinya kecelakaan itu. Jadi bertanya-tanya itu semua salah siapa? Siapa yang bertanggung jawab?

Memang rasa-rasanya tidak etis menanyakan siapa yang salah dan semacamnya ketika masih dalam suasana berkabung. Apalagi keluarga jelas merasa kehilangan anggota keluarganya ada yang pergi selamanya melalui cara yang tidak baik. Tapi, ketika kejadian-demi kejadian terus berulang terjadi seperti tanpa adanya pembelajaran yang diambil pasti ini memang ada something wrong. Ada yang gak beres. Lalu, siapa?

Tanpa bermaksud memvonis si A yang salah, si B yang terlibat, atau si C yang ikut berperan, yuk kita lihat satu-persatu pihak mana saja yang terlibat dalam sebuah kecelakaan motor di jalan raya.

Biker

Kedewasaan di jalan raya menjadi kunci. Dewasa berarti lebih memikirkan keselamatan dirinya di jalan raya yang otomatis juga akan membuat pengendara lain selamat. Defensive riding menjadi contoh kedewasaan ketika membawa sebuah kuda besi tak bernyawa yang lurus-belok-miring-berhentinya bergantung di si biker. Lebih memilih mengalah ketika ada biker lain mencoba memancing emosi.

Selama berkendara di jalan raya ada tiga kemampuan dasar yang harus dikuasai seorang biker; skill, rule dan attitude. Skill merupakan kemampuan teknik biker mengendalikan tunggangan. Ngegas, ngerem, belok, berhenti tanpa roboh merupakan bagian ini. Skill merupakan kemampuan pertama seseorang untuk bisa naik motor. Tapi, skill saja tidak cukup di jalan raya. Harus ada yang mengatur agar ‘kehidupan’ di jalan raya teratur yakni rules atau peraturan jalan raya. Tidak jarang, kecelakaan biasanya diawali oleh sebuah pelanggaran lalu lintas, misalnya melanggar lampu merah. Semakin banyak peraturan berlalulintas dilanggar, maka si biker makin banyak pula Ia menciptakan “medan perang” di jalan raya. 

Dan terakhir tapi terpenting adalah attitude atau sikap. Sejago apapun skill si biker, sebanyak apapun pemahaman si biker tentang peraturan lalu lintas, tapi tanpa dibarengi sikap berkendara yang baik semua akan jadi sia-sia. Nah, ketiga kemampuan dasar itu jika diterapkan akan menjadi sebuah habit atau kebiasaan yang baik bagi si biker di jalan raya.

Pabrikan

Semakin kesini pabrikan makin berlomba menciptakan motor dengan teknologi yang makin canggih, makin lengkap fiturnya, hingga makin kencang kecepatannya. Secara tidak langsung, perlombaan antar pabrikan membawa para konsumennya untuk ikut berlomba membuktikan klaim pabrikan yang sayang dilakukan di jalan raya. Jalan yang seharusnya menjadi milik bersama tanpa memandang brand atau kelas motor justru telah ‘diklaim’ milik pihak-pihak tertentu yang seperti siap mati di sana.


Edukasi pabrikan terhadap para konsumennya menjadi penting di sini. Tidak sekedar hit and run, jual barang, selesai urusan. Harus ada kepedulian untuk mereka misalnya dengan mengadakan safari safety riding course ke kota-kota seluruh Indonesia dengan harapan bisa membagi virus keselamatan berkendara di jalan raya. Tidak hanya kota besar tapi diusahakan luas penyebarannya. Gunakan dealer-dealer di daerah sebagai perpanjangan tangan pabrikan.

Kepolisian

Mungkin di institusi inilah saringan pertama pantas tidaknya seseorang dalam mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Seleksi bernama Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang selama ini masih terlalu mudah keluarnya. Dengan beberapa oknum polisi yang terlibat, maka mendapatkan SIM semudah mengeluarkan lembaran merah pecahan tertinggi uang Rupiah dari dalam dompet. Tidak peduli usia, tidak peduli skill, tidak peduli pantas atau tidak, pokok dana tersedia ya semudah itu dalam memperoleh SIM. Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, SIM hanya sebagai formalitas pengisi dompet agar ketika ada razia tidak kena tilang, benar-benar bukan sebagai ‘surat ijin’ berkendara baik di jalan raya.

Ide untuk menerapkan SIM C berjenjang merupakan ide bagus dan sebuah langkah maju dari kepolisian. Tapi, jika ‘pemain lama’ masih ada dan menempati posisi-posisi penting dalam proses pembuatan SIM maka masalah klasik seperti di atas akan kembali muncul laksana jamur saat hujan usai.

Pemerintah

Dalam hal ini kementerian pekerjaan umum dan kementerian perhubungan yang bertanggung jawab untuk sarana dan prasarana jalan, termasuk menyediakan jalan aspal yang mulus. Selama ini tidak sedikit kecelakaan, khususnya yang melibatkan sepeda motor, terjadi karena kondisi jalan yang rusak. Mulai dari terjatuh karena melibas lubang hingga ditabrak karena menghindari lubang.


Sebenarnya masih ada penyebab lain seperti cuaca yang juga bisa menjadi penyebab kecelakaan terjadi. Tapi, masa iya kita akan menyalahkan cuaca sedangkan terjadinya badai dan sejenisnya merupakan akibat ulah manusia sendiri.

Banyaknya kecelakaan di jalan raya akhir-akhir ini memberikan warning kepada kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan saat berkendara di jalan raya. Tidak sedikit juga kecelakaan terjadi ketika kita justru sudah waspada tetapi orang lain abai. (tm)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s