AC Milan: 4 Musim, 5 Pelatih, Siapa Yang Terbaik Dari Yang Buruk?!

pic. espnfc.com

Gennaro Gattuso menjadi pelatih keenam Milan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Sebuah kondisi yang menggambarkan betapa kacaunya performa klub berjuluk setan merah itu baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Mulai dari Clarence Seedorf hingga terakhir Vincenzo Montella, semuanya gagal membawa Milan kembali ke habitat aslinya sebagai tim besar di Italia maupun Eropa. Kelima pelatih tersebut memiliki persamaan yakni mengalami pemecatan. Lalu, diantara yang terburuk, siapakah pelatih terbaik Milan sejak era 2014 lalu? Terasmalam coba menghadirkan statistik 5 pelatih Milan sebelum Rino Gattuso ditunjuk 27 November lalu.

Clarence Seedorf

Seedorf merupakan pelatih pertama di era ‘kekacauan’ performa Milan. Mantan gelandang I Rossoneri itu ditunjuk untuk menggantikan Max Alegri yang dipecat. Hemm.. sebenarnya ada Mauro Tassotti yang sempat ditunjuk manajemen Milan usai memecat Alegri, namun Tassotti hanya memimpin Milan sebagai caretaker dengan sekali main. Ekspektasi tinggi dibebankan pada pria Belanda itu. Ditunjuk menjadi nakhoda Milan senior pada paruh kedua musim 2013-2014 tepatnya 16 Januari 2014, Seedorf tidak lama menukangi bekas klubnya itu.

pic. bleachereport.com

Ia hanya 5 bulan memimpin sebelum dipecat 9 Juni 2014 usai Serie A usai. Seedorf hanya memimpin Milan dalam 22 pertandingan dengan statistik 11 kemenangan, 2 2eri dan 9 kalah. Persentase kemenangan Seedorf hanya 50%! Di akhir musim, Milan dibawanya menduduki peringkat ke-8 dengan 57 poin kalah 3 poin dari Inter Milan di posisi kelima dan 45 angka dari Juventus sang juara.

Filippo Inzaghi

Usai hanya ditangani Seedirf selama 5 bulan, Milan kemudian menunjuk eks striker unik nan tajam mereka, Filipo Inzaghi untuk meneruskan tongkat kepelatihan. Milan berjudi dengan menunjuk pelatih yang minim pengalaman. Sebelum ditunjuk pada 9 Juni 2014 lalu, karir kepelatihan Inzaghi hanya sebagai pelatih tim primavera Milan.

pic. skysports.com

Inzaghi memimpin Milan selama satu musim penuh sebelum dipecat 4 Juni 2015. Milan dibawah Inzaghi melakoni 40 laga di kompetisi Serie A dan Coppa Italia. Hasilnya, hanya 14 kemenangan yang berhasil diraih atau setara 35%. Lebih buruk dari Seedorf, 13 kali seri dan 13 kali kalah. Di akhir musim Milan hanya berada di posisi 10 klasemen! Milan berjarak 3 poin dari Inter di peringkat 8 dan 35 poin dari sang juara, Juventus.

Sinisa Mihajlovic

Prestasi mengerikan Milan di bawah Inzaghi memqksa manejemen melengserkan sang legenda. Milan kemudian menunjuk pria Serbia eks bintang Lazio, Sinisa Mihajlovic. Mihajlovic memiliki pengalaman melatih yang jauh lebih banyak dari dua pelatih Milan sebelumnya. Catania, Bologna, Fiorentina, Sampdoria pernah merasakan sentuhan kepelatihan Miha. Bahkan, Miha pernah menukangi timnas Serbia di Euro 2012. Namun, tidak ada prestasi yang berhasil diraih pria kelahiran 20 Februari 1969 itu.

pic. bleachereport.com

Dikontrak Milan sejak 16 Juni 2015, Miha memimpin Milan dalam 37 laga dengan 19 kemenangan 9 seri dan 9 kekalahan. Persentase kemenangannya adalah 50%. Masih lebih baik dari Inzaghi. Di era Mihajlovic ini Milan menemukan talenta emas bernama Gianluigi Donnarumma. Penjaga gawang belia yang kala diberi kepercayaan debut oleh Miha baru berusia 16 tahun. Kini, Donnarumma tak tergantikan di bawah mistar gawang I Rossoneri.

Di akhir musim, Milannya Miha finish posisi 7 dengan 57 poin tertinggal 10 poin dari Inter di peringkat keempat dan 34 angka di bawah Juventus sang campeone. Milan masih belum berhasil menembus Eropa. Karir Miha di Milan tidak bertahan semusim. Pada 16 April 2016 sang Allenatore dipecat dan digantikan oleh eks pemain Milan lainnya, Cristian Brocchi.

Cristian Brocchi

Brocchi ditunjuk manajemen Milan menggantikan Mihajlovic ketika musim 2015-2016 menyisakan beberapa pertandingan saja. Bersama Brocchi, Milan melakoni 7 laga termasuk final Coppa Italia. Sayang, di final Juventus menggagalkan ambisi Brocchi mempersembahkan trofi pertama dalam karir kepelatihannya. Milan kalah 0-1 lewat gol tunggal di masa perpanjangan waktu oleh Alvaro Morata (menit 110).

pic. 90min.com

Karir singkat Brocchi dalam 7 laga memimpin Milan menghasilkan statistik yang tidak bisa dibilang bagus. Menang 2 kali, seri 2 kali dan kalah 3 kali dengan presentase kemenangan sebesar 28% alias terburuk dari pelatih-pelatih gagal lainnya.

Vincenzo Montella

Montella hadir dipilih manajemen Milan dengan reputasi cukup sukses di Fiorentina dan Sampdoria. Ia dipercaya untuk menukangi I Rossoneri menggantikan Cristian Brocchi yang memang tidak diperpanjang kontraknya. Ekspektasi manajemen dan Milanisti terhadap Montella meningkat tajam. Montella diharapkan bisa membawa Milan kembali menjadi tim yang disegani di Serie A dan mampu menembus Eropa.

pic. dailymail.co.uk

Hasilnya, di musim pertamanya Montella berhasil membawa Milan finish keenam di Liga alias mendapatkan tiket kualifikasi ke Europa League. Misi membawa Milan ke Eropa berhasil, walaupun sebenarnya Liga Champions yang seharusnya menjadi tujuan. Lumayanlah daripada 4 pendahulunya yang semuanya gagal membawa Milan ke Eropa. Montella makin dicintai manajemen dan Milanisti usai mempersembahkan trofi Supercoppa Italia musim 2016-2017 usai mengalahkan Juventus.

Akhir musim 2016-2017 sekaligus menjadi tonggak baru sejarah Milan dimana konsorsium China dibawah pimpinan Li Yong Hong mengambil alih Milan dari Silvio Berlusconi. Milan menjelma menjadi tim kaya baru usai terpuruk di akhir era Berlusconi. Memasuki musim 201u-2018, Montella dimanja manajemen dengan kucuran fulus unlimited. Montella diberi kebebasan merekrut pemain-pemain yang disukainya. Alhasil, 11 pemain baru mendarat ke San Siro. Pemain-pemain yang bisa membentuk Milan baru baik dari sisi jumlah ataupun posisi pemain yang dibeli.

Awal musim, Milan meraih 6 kemenangan beruntun yakni 4 kali di kualifikasi Piala Europa dan 2 di Serie A. Mencetak 15 gol dan hanya kebobolan 1 saat menghadapi Cagliari di pekan kedua Serie A. Milan lolos ke babak penyisihan grup Europa League sekaligus di papan atas Serie A. Milan is back! Milan mulai kembali sebagai tim besar. Namun, Lazio memberikan alarm peringatan.

Di pekan ketiga, Olimpico membawa Milan dan Milanisti membumi kembali. Lazio yang tengah impresif bersama Simone Inzaghi memberondong gawang Donnarumma hingga 4 kali. Penyerang tajam mereka Ciro Immobile melesakkan 3 gol. Milan kalah 4-1. Montella mengalami kekalahan perdannya musim ini. Banyak yang masih berharap itu hanyalah kesalahan taktik Montella. Apalagi dua pekan berikutnya Milan kembali meraih kemenangan, melawan Udinese dan SPAL. Oke, Lazio hanyalah kerikil tajam dalam perjalanan. Namun, Milanisti seolah lupa bahwa tim-tim yang dikalahkan Milan adalah tim kelas bawah semua. Crotone, Cagliari, Udinese, SPAL hingga di Europa Shkendija dan Craiova adalah nama-nama tim yang sangat wajar dikalahkan Milan, pun ketika Milan di bawah form.

Milan sesungguhnya terlihat di pekan 6-8. Tiga pekan dimana Milan menghadapi tim-tim yang secara kualitas setara. Sampdoria yang sedang top form, Roma dan Inter yang juga sedang meraih performa terbaiknya. Hasilnya, Milan kalah! Hattrick kekalahan yang menyadarkan semua Milanisti bahwa Milannya Montella belumlah solid. Tapi, manajemen masih memberikan kepercayaan penuh kepada eks legenda Roma itu.

Di Europa, milan mulai tersendat juga. Sempat dua kali menang beruntun di dua laga awal pentisihan grup, Milan kemudian dua kali ditahan tim yang secara matematika seharusnya bisa dikalahkan, AEK Athens, baik kandang maupun tandang. Beruntung, performa tim lain juga tidak kalah buruk. Milan akhirnya memastikan lolos ke babak knock out usai mengalahkan Austria Vienna di matchday kelima.

Di liga, Milan kembali compang-camping. 6 peetandingan pasca hattrick kekalahan, Milan hanya meraih 2 kemenangan yakni (lagi-lagi) melawan tim bawah (Chievo 1-4; dan Sassuolo 0-2). Sisanya berakhir kekalahan yakni melawan tim yang setara, Juventus (2-0) dan Napoli (2-1). Dua laga lainnya berakhir imbang, melawan Genoa sepekan usai tiga kekalahan beruntun dan melawan Torino di pekan ke-14. 

Hasil imbang 0-0 melawan Torino di San Siro akhirnya mengantarkan Montella ke pintu keluar Milan. Sehari usai imbang, Montella dipecat manajemen. Direktur Olahraga Milan, Massimiliano Mirabelli menjadi aktor dibalik keputusan tersebut. Milan era Montella berakhir.

Bicara statistik, Milannya Montella tidak lebih baik dari Seedorf maupun Mihajlovic. Persentase kemenangan Montella bersama Milan adalah 50%, sama dengan yang diraih Seedorf dan Miha. Namun, memang kita harus fair, Montella masih lebih baik dari dua pendahulunya itu berkat satu trofi Supercopa dan tiket ke Eropa, dua gift yang tidak bisa dihadirkan Seedorf maupun Mihajlovic.

Montella memimpin Milan dalam 64 laga dengan 32 kemenangan, 14 imbang dan 18 kali kalah. Saat ditinggal Montella, Milan berada di posisi 7 Serie A dengan 20 angka, tertinggal 16 angka dari Inter di peringkat kedua dan 18 angka dari Napoli sang pemuncak Liga. Jika jatah Liga Champions musim depan menjadi acuan, maka Milan tertinggal 11 angka dari peringkat 4 AS Roma yang menjadi batas akhir kuota untuk Serie A.

pic. muudu.com

Kini, Milan dipimpin eks pemain mereka lagi yaitu Gennaro Gattuso. Banyak pihak yang meragukan kapasitas Rino Gattuso untuk membawa Milan ke papan atas Serie A dan menembus Liga Champions. Sangat beralasan sebab rekam karir Rino sebagai pelatih tidak bisa dibilang bagus, bahkan jauh lebih buruk dari Miha ataupun Montella. Mulai dari FC Sion di Swiss sebagai tim pertama yang dilatih Rino hingga Pisa di Serie C, Rino sudah mengalami 3 kali pemecatan dari 4 tim yang dilatih.

Namun, kini biarkan saja Rino menunjukkan kemampuannya membangkitkan moral pemain-pemain muda Milan limpahan Montella. Rino harus mampu mengeluarkan kemampuan maksimal para youngster seperti Alessio Romagnoli, Franck Kessie, Manuel Locatelli hingga Andre Silva dan Patrick Cutrone. Bukannya Rino sudah punya pengalaman menangani pemain muda saat di Milan Primavera?!

So, kita tunggu hingga akhir musim akan dibawa sampai kemana level Milan oleh Gattuso, seseorang yang punya darah Milan ketika membawa timnya itu berjaya di Italia dan Eropa kala masih sebagai pemain.

Advertisements

One response to “AC Milan: 4 Musim, 5 Pelatih, Siapa Yang Terbaik Dari Yang Buruk?!

  1. Pingback: 5 Pelatih Medioker Milan Dalam 4 Tahun Terakhir, Siapa Yang Terbaik? | rideralam.com·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s